Tampilkan postingan dengan label gangguan kecemasan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gangguan kecemasan anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Maret 2017

ANAK MOGOK SEKOLAH



Materi Talkshow program ME TIME di Radio @masfmmalang, Senin 9/1/2017

ANAK MOGOK SEKOLAH
Oleh: Dian Fitriaswaty., MPsi., Psikolog., Cht., CHA., C.NNLP



I. FAKTOR2 ANAK MOGOK SEKOLAH
Anak mogok sekolah di pertengahan proses pembelajaran pada intinya karena ada hal yang membuatnya tidak nyaman di sekolah. Bisa karena proses pembelajarannya (cara guru mengajar, metode belajar), Karakteristik Guru, Karakteristik Teman (lingkungan pergaulan) atau karena lingkungan sekolah (fasilitas sekolah, dll).

 Anak mogok sekolah di awal memasuki bangku sekolah biasanya dikarenakan mereka belum siap sekolah (karena faktor pola asuh). Misal:
1. Orangtua yg over protektif menyebabkan anak punya masalah dalam berinteraksi sosial (takut dan cemas ketika berinteraksi dg lingkungan baru). Biasanya terjadi pada anak yg diasuh penuh kenyamanan di dalam rumah dan minim diberi kesempatan untuk berinteraksi di luar rumah.
2. Orangtua yang gagal memberi informasi yang positif ttg sekolah dan prosesnya (justru malah menakut-nakuti anak), atau tdk bertindak ketika tahu ada pihak lain yang menginformasikan hal negatif ttg sekolah

Anak mogok sekolah karena permasalahan keluarga  Anak Broken home : Mogok sekolah sebagai protes dan sikap pemberontakan pada orangtuanya. Biasanya anak broken home memang rentan bermasalah di sekolah (dlm pergaulan dan performance belajar)


II. CARA MENYIKAPI ANAK MOGOK SEKOLAH
1. Tetap tenang, jangan panik atau emosional  Orangtua yang bisa tetap tenang adalah karena paham ilmu ttg masalah yg dihadapi. Maka pelajari faktor2 penyebab anak mogok sekolah dari berbagai sumber yg worth it.
2. Menggali dari anak maupun pihak sekolah kemungkinan2 yg menjadi penyebab kenapa anak mogok sekolah  utk anak yg mogok sekolah di tengah proses pembelajaran
3. Introspeksi ttg pola asuh selama ini ( utk anak yg mogok sekolah di awal sekolah, atau yg tdk ada hubungannya sama sekali dg sekolah sebagai penyebab).
4. Perbaiki dan cari solusi  kalau tdk sanggup cari bantuan ahli.

III. TIPS AGAR ANAK SUKA SEKOLAH
1. Intinya sedari dini pahamkan manfaat dan hal2 positif tentang sekolah
2. Sedini mungkin persiapkan anak untuk terampil beradaptasi dg lingkungan baru
3. Sedini mungkin sering2 ajak anak untuk mengobservasi sendiri calon sekolah yang akan dimasukinya, libatkan anak dalam keputusan memilih sekolah
4. Introspeksi terus dan upgrade kemampuan pola asuh agar anak tdk menjadi broken home



Join my Telegram channel:
Join Instagram:
@cafepsikologi
Visit my Website:

Sabtu, 17 Oktober 2015

MUTISM SELEKTIF Part.4

KATEGORI MUTISM SELEKTIF
Oleh: Dian Fitriaswaty




Utnick (2008) mengklasifikasikan MS menjadi 4 kategori, yaitu:

(a) Mild, anak hanya berkomunikasi dengan keluarga dan beberapa teman saja, anak lebih banyak menggunakan bahasa tubuh dan bahasa (namun tidak lancar) pada seting yang membuatnya kurang nyaman

(b) Moderate, anak berkomunikasi dengan suara bukan kata-kata

(c) Moderate severe, anak berkomunikasi menggunakan bahasa nonverbal (bahasa tubuh, menganggukkan kepala)



(d) Severe, sebenarnya anak mampu berkomunikasi secara nonverbal namun memilih tidak menggunakannya dalam komunikasi dengan orang lain.

MUTISM SELEKTIF Part.3

FAKTOR PENYEBAB ANAK MENGALAMI MUTISM SELEKTIF
Oleh: Dian Fitriaswaty





1.       MS dihubungkan dengan beberapa faktor penyebab dan salah satunya adalah kelekatan yang tidak aman antara ibu dengan anak (Connor, 2002).

2.       Variabel dalam keluarga yang berhubungan dengan kecemasan sosial termasuk diantaranya overproteksi, kurangnya kehangatan dalam pengasuhan, dan kelekatan yang tidak aman (Kearney, 2006). Anak yang terlalu dependen dengan ibu akan sulit menyesuaikan diri di lingkungan sosial yang tidak ada kehadiran ibu dalam situasi tersebut. Hal ini salah satunya dapat diindikasikan dari perilaku lekat dan bersembunyi di belakang tubuh ibu yang biasanya ditunjukkan oleh anak MS.

3.       Faktor genetik dimana salah satu atau kedua orang tua anak biasanya memiliki karakteristik pemalu dan pendiam, yang memberikan contoh perilaku diam pada anak (Landreth, 2001). Selain itu, Andersson dkk. (1998) juga memperoleh data mengenai simtom yang sama yang dialami oleh anggota keluarga seperti pemalu dan kesulitan berbicara dalam situasi sosial ditemukan pada 59% kasus MS. Dalam 35,1% kasus, salah satu dari saudara kandung menunjukkan simtom yang sama. Namun hanya sedikit kasus yang menemukan bahwa salah satu dari anggota keluarga pernah didiagnosa MS.

4.       Dalam 35,1% kasus ditemukan terdapat gangguan kesehatan mental dalam salah satu atau lebih anggota keluarga dan yang paling banyak adalah gangguan depresi. Salah satu atau kedua orangtua anak MS biasanya (38,5% ibu dan 43,6% ayah) tidak menganggap bahwa simtom MS yang ditunjukkan oleh anak mereka adalah sesuatu yang serius sehingga harus mencari bantuan dari tenaga profesional (Andersson dkk., 1998).


5.       Peristiwa yang traumatik juga diduga sebagai penyebab anak mengalami MS, yaitu sebanyak 36,4% dari kejadian MS pada anak (Andersson dkk., 1998). Beberapa kejadian traumatik yang dapat menjadi penyebab munculnya gangguan MS antara lain seperti perceraian orang tua dan kematian orang terdekat, emigrasi, terjangkit suatu penyakit berat seperti diabetes, tanggalnya gigi yang menyebabkan kesulitan bicara, dan lahirnya saudara kandung/adik (Andersson dkk., 1998).


MUTISM SELEKTIF Part.2

BEBERAPA FAKTA MENGENAI MUTISM SELEKTIF
Oleh: Dian Fitriaswaty






1.        Prevalensi terjadinya gangguan ini cukup kecil, berkisar antara 1-2 % dan data ini pun didapatkan dari hasil penelitian di luar negeri. 

2.       Mutisme selektif umumnya lebih banyak terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki dengan rasio 3 : 1.

3.       Mutisme selektif juga dikatakan sangat dekat hubungannya dengan gangguan kecemasan dan sebagai bentuk varian dari social phobia.

4.       Biasanya pertama kali terdeteksi sekitar usia 3-6 tahun dimana merupakan tahun2 pertama anak-anak memasuki fase interaksi di luar lingkaran keluarga.

5.       Anak-anak dengan berbagai keterampilan kemampuan kognitif dapat terpengaruh dan mengalami Mutism Selektif. Jadi tidak dipengaruhi oleh kemampuan kognitifnya.

6.       Mutism Selektif lebih sering terjadi pada anak-anak yang berasal dari keluarga terisolasi secara sosial, latar belakang etnis minoritas bilingual, memiliki anggota lain dari keluarga yang pemalu, pencemas, atau mengalami kesulitan dengan hubungan social

7.       Berdasarkan hasil penelitian, Mutism Selektif adalah sebuah bentuk social fobia, yaitu sebuah gangguan kecemasan yang diwujudkan dalam sebuah tindakan social dimana anak mengalami ketakutan yang sangat untuk dipermalukan, atau ketakutan bahwa dirinya akan dinilai negative oleh orang lain. Maka diam adalah cara anak untuk melindungi diri dari kecemasannya tersebut.


8.       Kecemasan yang dimiliki oleh anak dengan Mutism Selektif terjadi sebagai dampak kegagalan anak dalam belajar mengatasi hal-hal yang ditakutinya dengan cara yang tepat. Hal ini bisa disebabkan kurangnya komunikasi antara orangtua/pengasuh dengan anak.