Kamis, 07 Februari 2013

KEKERASAN PADA ANAK



            Semua orangtua sekali waktu pasti merasa marah terhadap anaknya. Mengatasi perilaku anak, memang bukan hal yang mudah. Hanya dengan mengatakan “tidak” saja belum tentu dapat meredam sikap yang menjengkelkan tersebut. Dalam menghadapi sikap dan perilaku anak yang menyulitkan tersebut, banyak orangtua yang lepas kendali sehingga mengatakan atau melakukan  situasi ini sering berulang, maka baik disadari maupun tidak orangtua akhirnya melakukan kekerasan pada anak, baik secara fisik maupun mental.
Kekerasan pada anak ini dapat muncul, apabila orangtua tidak memiliki bekal ilmu yang cukup dalam memahami tumbuh kembang anak-anaknya. Bukti bahwa orangtua tidak memiliki bekal ilmu yang cukup tentang tumbuh kembang anak (dunia anak) adalah dengan mudah diterapkannya cara kekerasan dalam mendidik, mendisiplinkan dan mengubah perilaku anak. Mulai-lah anak direcoki dengan kata-kata dan kalimat bernada tinggi, bervolume keras dengan makna yang negatif dan menyakiti/melukai hati anak. Belum lagi apabila verbal dirasa belum cukup untuk mewakili rasa marah maka orangtua tak jarang menggunakan jurus akhir yang dikira ampuh yaitu dengan hukuman fisik. Maka pukulan, cubitan, jeweran, jambakan bahkan tamparan menjadi cara yang dianggap biasa bagi para orangtua dalam mendidik dan mendisiplinkan anak-anaknya. mereka tidak mengerti bahwa dengan menerapkan cara mendidik dan mendisiplinkan seperti itu mereka baru saja memasuki proses memproduksi anak-anak yang akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi pemaki, pembentak dan pemukul sama dengan yang orangtuanya lakukan dulu terhadapnya. Atau sebaliknya, anak-anak korban kekerasan akan tumbuh menjadi pribadi penakut, penuh ketidakpercayaan diri dan lemah mental akibat didikan penuh intimidasi dan ancaman dan orangtuanya dahulu.
            Kekerasan pada anak rentan terjadi terutama apabila anak memunculkan sikap, sifat atau perilaku yang tidak sesuai dengan harapan orangtua, dan situasi ini rentan terjadi dalam kasus pengadopsian anak. Anak adopsi yang notabene bukan anak kandung memiliki peluang besar untuk tumbuh dengan karakteristik sifat atau perilaku yang tidak sesuai dengn harapan orangtua angkat. Maka dari itu pembahasan mengenai kekerasan ini penulis anggap perlu untuk dimasukkan sebagai bahan renungan bagi para orangtua angkat yang sedang atau akan mengadopsi anak.
Makna kekerasan-pun perlu untuk diluruskan dalam pembahasan ini bagi para orangtua atau pendidik. Yang disebut kekerasan bukan hanya yang bersifat fisik seperti yang selama ini cenderung dipahami. Jadi kekerasan itu bukan hanya memukul hingga biru dan berdarah, namun bentakan, teriakan, kata-kata pedas, kritikan tajam, pandangan atau sikap merendahkan, ketiadaan kesempatan untuk berpendapat dan sikap mengabaikan juga digolongkan sebagai suatu bentuk kekerasan. Untuk itu kesemuanya mengenai seluk-beluk tindak kekerasan pada anak akan dibahas secara lengkap dan detail namun ringkas dalam blog ini. Silahkan anda klik kategori "KEKERASAN PADA ANAK" untuk mendapatkan seluruh artikel yang terkait.

Peace, 3us ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar